**WA’UNG WOZA LAKA RITUAL WARISAN MANGGA MASI**

                                           jesend.foto_istimewa

Delapanenam.blongspot.com_Wa’ung woza laka merupakan acara yang dilakukan setelah lima hari seorang bayi dilahirkan. Upacara ini bertujuan untuk memberi nama secara adat kepada sang bayi yang baru lahir. Dalam masyarakat adat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Manggarai Timur khusunya, kita akan mengetahui prosesi adat yang cukup unik.  Prosesi adat dalam masyarakat Suku Ndolu, Waekekik, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba ditemukan beberapa tahapan ritual adat dalam prosesi pemberian nama bayi tersebut. Adapun ritual-ritual dalam acar pemberian nama bayi antara lain;

Acara Napo(tekar toro) Yaitu acara pemberian nama bayi dengan meminta restu nenek moyang melalui acara tekar toro atau tekar basi, Lalu dilanjutkan dengan acara Muas Wae Nio yang merupakan acara dimana semua orang yang hadir saat bayi dilahirkan wajib mencuci mukanya dengan air kelapa mudah yang dicampuri tetesan darah ayam melalui usapan daun sirih yang sudah direndan kedalam air kelapa tersebut. Ritual muas wae nio diyakini masyarakat suku Ndolu khususnya, agar bayi yang baru lahir dapat melihat lebih jelas dan terhindar dari penyakit rabun mata. Sesudah ritual muas wae nio dilanjutkan dengan acara ghan woza laka, acara ini merupakan acara makan nasi merah(dea’ laka) oleh kaum perempuan dan tidak diperbolehkan bagi kaum laki-laki untuk mengambil bagian atau mengikuti prosesi acara ghan woza laka ini.

Kemudian prosesi adat selanjutnya adalah acara wa’u wa tana, Dalam acara ini dua orang wanita, yang satu berperan sebagai ayah dan yang lain berperan sebagai ibu. Keduanya mengenakan busana adat suku Ndolu untuk membawa kulit kelapa yang dibelah saat acara muas wae nio menuju tempat ari-ari di kuburkan, lalu kulit kelapa tersebut ditutup diatas kubur ari-ari. Pada saat pulang dari kubur ari-ari mereka harus berjalan dari sisi kanan rumah, dan bayi yang akan di wa’ung duduk bersama ibu-Nya di pintu masuk rumah. Setelah keduanya sampai di pintu masuk, layaknya tamu yang datang berkunjung kerumah orang sebelum masuk mengetuk pintu atau memanggil si tuan rumah dahulu. Sedangkan dalam acara ini saat kedua orang tua yang dilakoni oleh dua orang wanita tersebut datang mereka melakukan percakapan singkat dengan ibunda bayi di depan pintu masuk sebelum mereka di persilahkan masuk kedalam rumah. Berikut obrolanya;
IbundaBayi       : Sai Meu
Dua Wanita : Iyooo
Ibunda Bayi     : Toko one meu wero bengu.?
Dua Wanita : Le Natar Ndolu Wae Tongal.
                                  -Mawar Meu.?
Ibunda Bayi       : Ewww
Dua Wanita     : Ata Wone Ko Ata Wean.?
Ibunda Bayi     : Ata Wone..(Bayi Laki)
                                  -Ata Wean..(Bayi Perempuan).
Dua Wanita     : ( Masuk Rumah)

Setelah percakapan selesai Dua wanita yang berperan sebagai Ayah dan Ibu masuk kedalam rumah keduanya harus melaksanakan ritual yang dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengikuti mereka yaitu yang dikenal dengan ritual wetot luton api wone temu. Sesampai didalam rumah dua wanita ini kete sepa(beri makan siri pinang) kepada orang rumah dan yang laki-laki sila rokok. Akir dari acara ini adalah acara makan bersama.

Penulis.           : Nandik Darman
Editor  : Frederika Mazzarelo
Nara Sumber  : Benni Jhon

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Semarak Peringatan HUT PGRI Ke-78 Di SMA Negeri 2 Kota Komba: Tarian Caci Menyemarakkan Acara"

OPINI //Peran Pemudah Dan Pelajar dalam Mempertahankan Persatuan Dan Kesatuan Indonesia//